Kamis, 06 Desember 2012

Death adalah Kematian

Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian menegangkan itu terjadi. Namun suasana duka masih menaungi kelas X.4 tempatnya menimba ilmu. Dia benar-benar seperti telah kehilangan teman terbaiknya sepanjang hidup. Membayangkan bagaimana Edo --teman baiknya-- tertabrak bus yang melintas tepat didepan matanya.

Saat itu, mereka berdua sedang membeli buku untuk kebutuhan membuat makalah tentang alat transportasi. Saat keluar dari toko Megah Jaya ketika tengah menyeberang, Redi melihat mobil melintas cepat hampir menabraknya. Untungnya, Edo segera menarik lengan Redi. Malangnya, disaat yang bersamaan, muncul bus Tebar Pesona dari arah berlawanan berkecepatan tinggi.

Tanpa ada aba-aba, bus tersebut menyantap tubuh gempal Edo. Edo terhempas, menghantam trotoar jalan. Redi yang tidak siap dengan kejadian itu hanya bisa diam mematung.

Beberapa detik setelah proses kecelakaan itu terjadi, Redi berlari menghampiri Edo yang sudah tek bernyawa. Memeluknya sambil terisak. Berlumuran darah temannya sendiri. Orang-orang segera berkumpul disekitar Redi dan mayat Edo.

X*X

Dering telepon membuyarkan pandangan Redi yang sedang serius mengawasi televisi. Diangkatnya gagang telepon yang bentuknya sebesar gagang pintu itu.

"Halo! Bisa bicara dengan Redi?" jawab suara diseberang,

"Ya, saya sendiri. Siapa ya?”

“Ini Nova.”

“Oh, Nova. Ada apa, nov?”

“Gini, Oki pengen ngajakin kita keluar.” sahut Nova,

“Kemana?” Tanya Redi lagi,

“Gak tau, tapi kayaknya penting banget. Soalnya dia maksa tadi ngajaknya.”

“Hm, gimana ya. Aku sekarang lagi sibuk nih. Lagi jaga rumah. Ortu lagi pergi keluar kota.”

“Ya udah, gimana kalo gue sama Oki aja yang kerumah loe?”

“Boleh. Kapan?”

“Bentar lagi. Loe tunggu aja dah.”

“Oke, aku tunggu. Jangan lama-lama ya.”

“Beres, bro.”

Redi merenung  setelah meletakkan gagang telepon. Ada apa gerangan yang begitu penting? Dirinya membatin.

X*X

“Mungkin ini ada hubungannya dengan gedung tua yang kita masuki seminggu lalu.” Kata Oki,

“Kita gak tau apa ini ada hubungannya dengan kematian Edo, soalnya gak ada bukti kalo Edo mati gara-gara hal itu. Bisa aja takdirnya memang seperti itu.” Nova menimpali,

“Loe masih gak percaya! Buktinya udah jelas, kita selamat dari robohnya gedung tua yang entah kenapa roboh dengan sendirinya, terus kita bakal mati satu persatu. Pernah liat film Final Destination? Sepertinya nasib kita akan berakhir seperti tokoh-tokoh dalam film itu.”

“Masa’ iya film jadi kenyataan?” Redi bertanya polos,

“Gue juga gak yakin, tapi yang jelas gue takut memang beneran jadi kenyataan.”

“Kalo memang begitu adanya, kita harus cari pola kematiannya. Siapa berikutnya yang akan mendapat rancangan kematian?”

Oki hanya menggeleng sambil mengeluarkan sebungkus rokok mild dari saku bajunya. Meski masih menimba ilmu dikelas satu, cowok yang hobinya main PS ini udah jadi pecandu sejak masih kelas 5 SD. Mungkin turunan dari bokapnya yang juga perokok aktif.

Dia menyalakan korek api digenggaman jarinya. Namun, korek api tak mau menyala. Berkali-kali dicobanya tapi hasilnya nihil.

“Sial! Kok gak mau idup sih! Padahal baru aja beli. Payah! Gini dah kalo barang murahan, gak ada kualitasnya sama sekali. Loe punya korek gak?” tanyanya ke Redi,

“Gak punya. Keluargaku gak ada yang ngerokok.”

“Haduh, dapurmu dimana?”

“Disana, belokan setelah kamar paling pojok.” Sambil menunjuk kesuatu arah,

“Oke.”

Oki berjalan ke dapur tanpa ada feeling bakal terjadi sesuatu. Sebelumnya dia masuk ke kamar mandi dulu karena tempatnya memang berdekatan. Begitu keluar dari kamar mandi, Oki bergegas menuju dimana kompor gas berada. Dia bermaksud menyalakan rokoknya dengan kompor gas. Sambil mulutnya menjepit rokok, dia mendekatkan mukanya ke kompor.

Tiba-tiba, hal yang sangat tak diinginkan terjadi. Saat memutar kenop kompor, bukan api kecil yang muncul, melainkan semburan api+gas yang mengganas. Apinya langsung saja menghambur ke muka Oki. Tanpa dinyana dia langsung berteriak sambil memegangi mukanya yang terbakar. Face of Fire.

Redi dan Nova yang mendengar teriakan Oki segera saja berlari kearah sumber suara. Tampak pemandangan mengerikan layaknya pemain sirkus yang membakar wajahnya sendiri, tapi yang ini tanpa disengaja dan memang tidak diharapkan.

Redi dengan sigap berlari ke arah kamar mandi, tapi pintu kamar mandi tak mau bergeming sedikitpun.  Redi memutar kunci yang tertancap di kenop pintu. Tak ada reaksi. Memutarnya lagi. Kunci malah patah. Kebingungan. Redi melihat handuk disebelahnya. Menyambarnya kemudian berlari ke arah Oki.

Sesampainya ditempat Oki, dia sudah terlihat jatuh dilantai marmer dan tak bergerak lagi. Nova menjerit-jerit sambil menutup mata. Redi langsung mengibas-kibaskan handuk ke kepala dan baju Oki yang membara. Akan tetapi handuk malah ikut terbakar. Redi melemparkan handuk ke sudut dapur.

Kehabisan akal dan waktu, Redi berlari ke ruang tamu. Disana dia melihat vas bunga berukuran sedang berisi air dan seikat bunga. Dibawanya dengan tergesa-gesa. Api sudah mulai menelan habis tubuh Oki. Tanpa berpikir sekian kali, Redi langsung menyiramkan air dari vas bunga yang dibawanya. Air segera membasahi tubuh Oki yang menghitam dan seluruh lantai di sekitarnya. Bunga-bunga berceceran.

Api padam. Wajah Oki yang gosong tampak sangat mengerikan. Nova tak sanggup melihat dan berkata apa- apa lagi. Miris dibuatnya. Redi memelorotkan tubuhnya ke dinding dapur. Diam membisu. Napasnya menderu hebat.

X*X

Prosesi pemakaman berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Redi mendekati Nova.

“Gimana ini? Sahabat kita meninggal satu persatu. Apa mungkin benar kata Oki, kita sedang dikejar oleh Kematian?” Tanya Redi lemah,

“ Gak tau, gue juga gak bisa menyimpulkan. Gue gak bisa mikir sekarang, gue trauma.”

“Terus apa yang harus kita lakukan?”

“Entahlah, gue juga gak tau.” Ucapnya sambil lalu.

Redi masih belum beranjak dari tempatnya berdiri semula. Dia menoleh ke arah gundukan tanah merah yang dibawahnya tersemayam jasad Oki. Memori masa lalu terlintas di otaknya, bagai roll film yang diputar cepat. Masa-masa yang mereka lalui bersama. Berbagi suka dan duka.

Esoknya di sekolah, Redi hanya merenung. Memikirkan langkah apa yang harus dilakukan untuk menghentikan maut yang mengejarnya.

Pulang sekolah, Nova dibonceng Redi kerumahnya. Biasanya Nova dijemput oleh sopir pribadi, tetapi tidak kali ini. Sampai dirumah Nova, mereka membahas lagi perihal teman-temannya.

“Kalo emang menurut loe kita dikejar oleh maut, loe punya usul buat menghentikan semua ini?”

“Aku memang gak punya usul yang baik, tapi gimana kalo kita ke bekas reruntuhan gedung tua itu lagi?” usul Redi,

“Ke gedung itu lagi, untuk apa?”

“Untuk mencari sesuatu yang kira-kira bisa menghentikan semua ini.”

“Sesuatu apa itu?” desak Nova,

“Aku juga gak tau. Makanya kita cari sama-sama.”

“Huh, terserah. Terus, kapan kita kesana?”

“Kalo bisa hari ini juga.”

“Hah, hari ini? Ya gak bisa lah. Bentar lagi gue ada undangan ke acara pesta di kantor papa gue. Mungkin acaranya sampe malem. Jadi gue gak bisa ikut loe.”

“Kalo besok gimana?”

“Besok gue ada les biola. Gimana kalo–“ suara dering BB milik Nova memutuskan percakapan. Nova mengangkat BB-nya. Setelah selesai bercakap ria, dia meletakkan kembali ke saku seragamnya.

“Barusan papa gue nelpon, katanya gue disuruh cepet ganti baju. Soalnya bentar lagi sopir gue datang mau jemput.”

“Oh, ya udah. Kalo gitu aku pamit pulang dulu ya, besok kita rencanakan lagi.”

“Oke deh, hati-hati dijalan.”

Redi berdiri dari sofa tempatnya duduk. Dibarengi oleh Nova. Namun, tanpa sengaja Nova menyenggol  guci mini disebelah ia duduk. Guci jatuh dari meja dan hancur berkeping-keping. Nova memanggil pembantunya yang sedang memasak makan siang didapur. Dia meminta maaf kepada Redi atas apa yang baru saja terjadi. Redi memakluminya.

Dirumahnya sendiri, Redi segera merebahkan tubuh letihnya diatas ranjang setelah melempar tasnya keatas meja belajar. Menatap kosong ke langit-langit kamar. Agak lama. Kemudian Redi beranjak dari pembaringannya. Berjalan ke arah pintu.

Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bingkai foto. Diambilnya foto yang tertidur di meja belajarnya. Dilihatnya baik-baik foto itu. Foto saat mereka berempat sedang liburan ke gunung Tangkuban Perahu.

Tapi bukan karena foto itu tergeletak tertimpa tasnya atau dia ingin bernostalgia mengingat memori lama yang membuat dia sekarang membelalakkan matanya. Pemandangan yang ada di foto tersebut yang kini membuat tubuhnya menggigil gemetaran. Matanya nanar menatap foto digenggamannya.

Dari kiri dimulai dari tempat Edo bepose. Fotonya terdapat semacam bercak semerah darah. Tepat ditubuh Edo. Ke kanan, ada Oki berdiri sambil memegang rokoknya. Mukanya tampak gosong menghitam. Disebelah Oki, terlihat Nova sedang berjongkok diatas sebuah batu. Fotonya terlihat mengkerut. Lebih tepatnya bertumpuk-tumpuk. Redi memandang posisinya sendiri di foto itu. Berpose melompat. Tertutupi semacam efek flash sehingga tubuhnya terlihat begitu terang.

Kejutan berikutnya, background foto yang seharusnya menampilkan keindahan alam gunung Tangkuban Perahu lengkap dengan kawah berasapnya, berubah menjadi gelap hampir pekat. Tertutup awan mendung. Redi bergidik melihatnya, sampai-sampai foto yang dipegangnya jatuh dan pecah berantakan.

Berdiri terpaku, saat kesadarannya kembali. Redi segera menyambar HP yang ada di dalam tasnya. Mencoba menghubungi BB-nya Nova. Namun, seperti yang sudah ia duga sebelumnya. BB yang dihubungi tidak menyahut, hanya bunyi “tuuut…tuuut…tuuut” yang terdengar. Redi semakin bingung tak tau harus berbuat apa.

X*X

Redi sudah menduga akan terjadinya hal ini. Barusan bokap Nova menelpon balik. Mengabari bahwa anaknya terjatuh dari lantai 21 gedung kantor bokap Nova. Tubuhnya jatuh menimpa mobil dinas yang terparkir rapi dibawahnya. Sampai saat ini tak diketahui penyebab kenapa Nova bisa jatuh. Hanya di-TKP terlihat gerobak dorong yang biasa dipakai oleh pengantar surat terguling.

Benar-benar alasan yang sangat tidak masuk akal. Kini tinggal dirinya sendirian dari keempat sahabatnya yang masih bertahan hidup. Malam ini, dia duduk sendiri di beranda rumahnya. Rumah yang tidak begitu mewah, tapi cukup besar untuk ditempatinya sekeluarga. Merenung memandangi bintang dilangit.

Apa yang harus kulakukan untuk menghentikan semua ini? Tanyanya dalam hati. Akhirnya, dia mengambil suatu keputusan nekat.

Sepulang sekolah, tanpa mengubah kostum putih abu-abunya, dia segera ngebut ke bekas gedung tua yang roboh waktu itu. Meraung-raung dengan suara motornya. Setelah sampai, dia berjalan berkeliling tempat yang dituju. Masih ada beberapa bagian tembok yang berdiri tegak. Namun, hal itu tak membantu. Tak mengubah apa-apa. Redi putus asa menerima kenyataan yang ada.

Dia tidak langsung pulang setelah dari gedung tua. Redi bergerak ke sudut kota. Tempat dimana para gelandangan dan pengemis berada. Entah apa yang ada di otaknya sekarang. Memparkir sepeda motornya disebelah lereng sungai yang cukup dalam. Berkubang dalam keputus-asaan, Redi merasa dirinya menjadi gila. Tak ada hal berarti yang dilakukan disana, hanya melongo tanpa harap. Sampai malam pun hadir.

Saat itu, Redi akan beranjak pulang. Mendekati motornya. Secara tiba-tiba, dari arah jalan muncul truk pembawa besi tua yang merangsek masuk melewati perkampungan dan mengarah lurus tepat ke arah Redi berdiri. Dia ingat dengan foto dirumahnya. Tubuhnya tertutup cahaya sama seperti saat ini tubuhnya terkena pancaran sinar lampu truk. Tanpa pikir panjang Redi melompat ke samping. Malangnya, dia melompat ke sungai. Tubuh Redi berguling-guling menyusuri lereng sungai. Truk menabrak motor hingga hancur tak berbentuk. Entah apa yang terjadi selanjutnya, semua terjadi begitu cepat.

X*X

Selang infus menancap dengan pasti dipergelangan Redi. Tubuhnya tergolek tak berdaya diranjang rumah sakit yang berselimut sprei putih. Sudah 3 hari ini dia tak sadarkan diri. Ibunya menemaninya dengan setia disampingnya.

Hari beranjak sore, Redi membuka kelopak matanya setelah sekian lama terpejam. Ibunya yang melihat hal tersebut langsung memeluk tubuhnya. Redi masih tidak terlalu tanggap akan apa yang sedang terjadi.

“Dimana ini, bu?”

“Dirumah sakit, nak. Kamu kecelakaan beberapa hari yang lalu. Hampir saja ditabrak oleh truk yang remnya blong. Syukurlah kamu selamat, nak.” Tutur Ibunya sambil meneteskan air mata.

Redi terdiam menatap pintu kamar. Mencoba mengingat kembali kejadian terakhir yang menimpanya. Dia masih sangat ingat ketika terakhir melompat menghindari tabrakan truk. Redi menyangka bahwa ia sudah terlepas dari maut karena berhasil lolos dari kematian yang hampir menimpanya.

Lusa, Redi sudah boleh pulang kembali kerumahnya. Dia hanya mengalami retak di tangan kirinya, tepat di tulang pengumpil. Namun, masih ada harapan untuk sembuh. Redi sudah tidak sabar untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya kembali.

Sampai dirumah, Redi mencoba menggerakkan pergelangan tangannya. Besok dia ingin masuk sekolah.

“Eh, bro. katanya loe udah keluar dari rumah sakit ya?” Tanya Iwan yang juga warga kelas X.4,

“Yoi, mungkin besok aku mau masuk sekolah aja. Udah lama gak masuk, kangen sama temen-temen.”

“Oh, baguslah kalo gitu. Katanya motor loe rusak ya?”

“Bukan Cuma rusak, tapi hancur berantakan.”

“Gini aja deh, gimana kalo besok loe gue jemput?”

“Hm, oke dah. Bisa-bisa.”

“Besok jam setengah tujuh gue kerumah loe.”

“Sip lah. Sampai ketemu besok, bro.”

Redi mematika HP-nya dan meletakkan diatas meja belajar. Sambil menerawang, ia mengingat lagi kejadian saat teman-temannya tiada. Dia merasa beruntung karena terlepas dari kematian yang mengintainya sepanjang waktu. Meski harus mengalami retak tulang, namun dia masih tetap hidup.

X*X

Vespa butut itu menerobos derasnya hujan yang mengguyur jalanan. Menembus pekatnya awan mendung siang itu. Petir menjilat-jilati cakrawala.

Iwan mengemudikan motornya dengan kecepatan cukup tinggi, berusaha mengimbangi derasnya hujan. Redi berpegangan erat dibelakangnya sambil menggigil kedinginan.

“Oi, hujannya deres banget nih. Gimana kalo kita berteduh dulu?” tawar Redi,

“Udah tanggung, bentar lagi juga nyampe rumah.” Iwan menolaknya,

“Kalo gitu cepetan. Aku udah kedinginan ini.”

“Iya, ini udah kecepatan maksimal.”

Kegelapan awan membuat pandangan mata menjadi terbatas. Saat melewati sebuah lapangan. Tiba-tiba muncul mobil dari bahu jalan. Iwan yang kelabakan segera membanting setir ke kanan. Jalanan yang licin membuat vespa menerobos semak-semak dan menabrak pagar lapangan.

Iwan terjerembab ke dalam semak-semak. Redi sendiri terlempar ke tengah lapangan. Tubuhnya terseret sejauh kira-kira 16 meter diatas rumput basah. Untungnya rumput terawat di lapangan itu, jadi Redi tidak bergesekan langsung dengan tanah. Akibat kejadian itu, tangan kiri Redi kembali retak. Dia berteriak dalam derasnya hujan. Kakinya juga merasakan sakit. Berusaha untuk berdiri. Tubuhnya gemetaran. Mencoba berjalan menuju jalanan sambil menggenggam tangan kirinya.

Kejadian berikutnya tak diduga dan sangat tidak diharapkan oleh Redi. Tepat berjalan ditengah lapangan. Posisi tubuhnya lebih tinggi daripada benda mati disekitarnya.

Sakit.

Darah.

Basah.

Dingin.

Capek.

Dalam kelelahan yang melanda, Redi menatap ke langit. Pemandangan aneh tercipta. Seperti melihat malaikat maut turun dari langit. Melesat cepat. Lurus ke arah sosok Redi yang berdiri. Sebilah petir menyambar tepat diatas kepala Redi. Tak ayal, tubuhnya tersengat aliran listrik jutaan volt dengan panas ribuan derajat celcius.

Cahaya terang sempat menyinari badan Redi yang kaku tegak berdiri. Kemudian, selanjutnya gelap![]

2 komentar:

  1. wow,..wow,..wow,..horroooooorrrr banget nih crita,..mirip final destination hlo,..hebat ee bisa nulis cerpen,..ak gag bisa hlo,..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, sekedar mempublikasikan apa yang sudah tertuang di buku cerpen usang...

      Hapus