Senin, 17 Februari 2014

Pray For Kelud

Beberapa detik berlalu, namun tubuhku masih tak dapat digerakkan. Punggung tanganku panas sekali, memerah serasa terbakar. Kaki kiriku ngilu, entah retak, entah patah. Tembok yang roboh menindih tubuhku dengan ganas. Tanpa memberi celah untuk sekedar bergeser seinci saja. Pandanganku mulai mengabur. Semakin lama semakin gelap. Aku harus berusaha untuk tetap sadar jika ingin hidup, namun semangat hidupku semakin pudar seiring dengan asap yang kian menebal.

-----*X*-----

Tiga Jam yang lalu...

 "Ayah sama Ibu mau ke pasar beli lauk buat acara besok, kamu mau ikut nggak?" ayah menanyaiku yang sedang asyik bermain dengan marmut kesayangku.
"Nggak dah, aku tunggu dirumah saja, yah." jawabku.
"Ya udah, jangan kemana-mana ya, tunggu dirumah saja. Jaga adikmu itu."
"Oke, yah."

Deru mesin menyalak, motorpun melesat meninggalkanku dirumah dengan seorang adikku yang berumur 12 tahun. Namaku Rani. Umurku 15 tahun. Kelas X. Sebagai seorang anak baru di sekolah baru, kehidupanku biasa-biasa saja sebenarnya, paling-paling cuma masalah senioritas yang biasa terjadi pada anak baru. Tapi hari ini, Kamis (13/02/2014), akan menjadi momen paling horor yang pernah terjadi dalam hidupku.

Masih sekitar jam 8 sekarang, kedua orang tuaku baru saja keluar untuk membeli lauk untuk acara selamatan besok. Hanya tinggal aku berdua dengan adikku saja yang diam dirumah.

Rumahku tidak begitu besar juga tidak begitu kecil. Sederhana lah menurutku. Dekat dengan gunung. Yah, sekitar 5km mungkin kalo dihitung menggunakan penggaris. Entah penggarisnya siapa yang panjangnya sampe 5km ya?

Sebenarnya beberapa hari lalu status gunung di daerah kami ditingkatkan menjadi Siaga, masyarakat dihimbau untuk bersiap melakukan pengungsian bila nanti-nanti statusnya meningkat menjadi awas, cuma tadi pagi kok agak reda, jadi ya kami bersantai-santai lagi tanpa persiapan. Makanya orang tua kami pergi keluar tanpa menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.

Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 21.00 WIB lewat beberapa menit. Tiba-tiba diumumkan bahwa status gunung dinaikkan menjadi Awas. Karena rumah kami berada dalam jarak yang lumayan dekat dengan gunung, otomatis mau tidak mau kami harus mengungsi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa aparat pemerintah terdengar melakukan koordinasi diluar rumahku.

Aku menyuruh adikku untuk bersiap-siap, sedikit bingung juga, apa yang harus aku lakukan. Aku cuma menyuruhnya membawa beberapa helai pakaian dan memasukkan ke dalam tas sekolahnya. Aku sendiri sibuk menghubungi orang tuaku. Bilang kalau status gunung menjadi Awas. Mereka bilang akan pulang beberapa menit lagi, tapi aku tidak yakin mereka akan pulang cepat, jarak antara rumahku dengan pasar membutuhkan waktu sekitar setengah jam perjalanan.

Kepada seluruh warga, dimohon untuk segera mengungsi dan berjalan dengan tertib, karena dikhawatirkan gunung akan menjadi berbahaya.
Terdengar himbauan dari pengeras suara diluar. Aku semakin panik. Kusuruh adikku untuk lebih cepat. Hpku berdering, ortuku bilang untuk mengungsi duluan, nanti mereka akan menyusul. Tapi aku bilang tidak mau kalau tidak bareng-bareng. Ortuku memaksa, tapi akupun tidak mau mengalah. Akhirnya mereka menyerah dan menyuruh tunggu sebentar.

Setengah jam lebih aku menunggu, namun ortuku tidak datang juga. Aku menelpon mereka lagi. Katanya jalanan pulang macet karena orang yang mengungsi, bahkan mereka tidak bisa kembali karena dilarang kembali.

Dalam keadaan bingung campur panik, aku langsung mengajak adikku untuk segera mengungsi.

"Ayo, kita mengungsi duluan." ajakku.
"Mana ayah sama ibu?" tanya adikku.
"Nanti ayah sama ibu menyusul, kita disuruh duluan katanya."
"Tapi aku nggak mau kalo nggak bareng ayah sama ibu."
"Iya, nanti kita juga bakal ketemu mereka dijalan."
"Tapi aku maunya sekarang."
"Ayah sama ibu nggak bisa kesini sekarang, kejebak macet."

Disaat genting begini adikku malah merajuk. Untung tante Susan datang kerumahku. Dia membantuku membujuk adikku untuk segera ikut mengungsi. Adikku dan tante Susan memang akrab, jadi mudah membujuk adikku.

"Tante pergi aja duluan, aku masih ada barang yang mau dibawa."
"Oke, cepetan ya, nanti kamu susul tante."
"Iya, tante."
Sempat sesaat aku menoleh ke arah gunung yang menjulang tinggi itu. Yang membuatku heran adalah keadaan diatas gunung. Kilat-kilat petir menjilat-jilat tepat ke arah mulut gunung. Aneh sekali pikirku, jarang terjadi fenomena seperti itu, ini fenomena langka, tapi aku tak sempat berfikir untuk mengabadikannya. Sepertinya akan terjadi hal yang berbahaya, pikirku. 

Aku kembali masuk kerumah. Entah apa yang aku pikirkan. Aku sendiri bingung akan melakukan apa. Sementara tante Susan dan adikku sudah pergi menjauh. Aku hanya berputar di dalam rumah, memikirkan hal yang lupa tidak ikut dibawa.

Bermenit-menit kemudian, mataku tertuju pada kandang di sebelahku. Oh iya, marmut imutku. Hampir saja aku melupakannya. Aku segera menyimpannya dikantong bajuku, karena ukurannya yang kecil, dia cukup dimasukkan saja ke saku baju.

Tepat saat aku melangkah ke bingkai pintu, saat itulah ledakan terjadi.

DUUUMMM...!!!

Rumahku berguncang hebat. Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh kebelakang. Untung saja kepalaku tak terantuk apapun. Sebentar saja guncangan terjadi. Aku kembali berdiri tegak. Melangkah cepat keluar rumah.

Pemandangan paling mengerikan yang pernah kulihat. Muntahan lahar, semburan wedhus gembel dan lontaran bebatuan dari mulut gunung bergerak cepat ke segala arah. Pintu rumahku yang mengarah tepat ke gunung langsung saja menyajikan gambaran seperti neraka itu. Orang-orang panik berhamburan kesana-kemari, berusaha menyelamatkan diri. Keadaan paling chaos yang belum pernah kualami sebelumnya.

Tanpa kuperintahkan dua kali, kakiku seperti bergerak tanpa kendali otak. Berlari tak tentu arah. Intinya satu: Menjauh dari gunung.

Ketika aku melewati rumah tetanggaku, masuk gang kecil yang diapit oleh dua rumah, saat itulah mungkin akhir dari segalanya.

Rumah sebelah kananku meledak, menghamburkan tembok yang semula berdiri kokoh menjadi hancur tapi tidak berkeping-keping, menyisakan bongkahan besar yang langsung saja menghajar tubuh kecilku. Aku terpelanting dan terjepit diantara tembok dan tanah. Dibalik tembok yang menjepitku, lidah api menjalar. Sempat membakar punggung tanganku namun langsung kutarik lengan kesamping, tapi terlambat, tanganku sudah memerah panas.

Belakangan kuketahui kalau rumah itu meledak gara-gara terhantam lontaran batu gunung, yang mungkin secara kebetulan atau tidak menabrak tabung gas di dapur dan memicu ledakan. Dengan ketinggian letusan mencapai belasan kilo meter, tidak heran bila lontaran batunya pun sampai ke tempatku berlari.

-----*X*-----

Sungguh harapan hidupku telah habis. Tertindih bongkahan tembok dengan kaki patah dan lengan terbakar. Aku pasrah bila harus pergi dari dunia ini sekarang. Tapi aku berharap adik dan orang tuaku selamat.

"Keluargaku harus tetap hidup." batinku.

Aku sudah tak sanggup lagi untuk membuka mata, energiku sudah habis untuk menahan rasa sakit. Perlahan tapi pasti, mataku tertutup dan mungkin tak akan terbuka lagi.

Selamanya...




*terinspirasi dari kisah nyata*
 
Petir menyambar mulut Kelud.
Detik-detik saat terjadinya erupsi.
#PrayForKelud

Tidak ada komentar:

Posting Komentar