Rabu, 16 Januari 2013

Sungguh Miris Melihatnya!

Musim hujan tahun ini sedikit memberi pencerahan bagi saya. Mungkin bagi orang lain ini adalah hal biasa, hal sepele yang tidak perlu di permasalahkan. Tapi bagi saya hal ini cukup membuat saya berfikir.

Pertama saya akan sedikit cerita, sebuah pengalaman yang membuat saya sedikit berfikir.

Sore itu *yang sebenarnya siang namun karena tertutup awan tebal hinggal terlihat seakan sore* seperti biasa saya mengebut dijalanan menuju ke kampus. Kebiasaan terlambat menjadikan saya pembalap liar.

Tak disangka, hujan turun secara tiba-tiba deras sekali. Padahal menurut timing saya belum akan terjadi hujan, namun alam berkata lain. Akhirnya mau tidak mau saya berteduh di sebuah warung. Di dalam sana saya melihat ada tiga anak SMP yang sepertinya sedang berteduh juga. Cewek semua. Saya cuek saja dan duduk di kursi yang disediakan pemilik warung.

Hujan masih belum reda, beberapa menit berlalu sejak saya masuk kedai tersebut. Ketiga anak SMP yang ada disana mulai gelisah. Entah apa yang ada dipikiran mereka hingga mereka sebegitu inginnya segera pulang. Saya terdiam tanpa komentar.

Hingga suatu saat, mereka keluar dan berbicara satu sama lain dengan bahasa Madura. Intinya mereka akan pulang apapun yang terjadi.

Disinilah yang membuat saya berpikir.

Mereka semua memakai kerudung meskipun itu kerudung selulup (istilah saya sendiri untuk menyebut kerudung yang cara memakainya tinggal memasukkan ke kepala, bukan kerudung taplak meja). Entah sekolah dimana mereka saya juga tidak dapat melihat badge di lengannya secara jelas. Yang pasti mereka semua berkerudung.

Bukan masalah bagaimana mereka memakai kerudung mereka atau kerudung mereka kurang gaul dikenakan yang membuat saya berpikir. Tapi saat mereka memutuskan untuk menerobos hujan.

Ternyata mereka menerobos hujan dengan cara membuka pakaian. Memang bukan telanjang, tapi penampilan awal yang begitu rapi berkerudung berubah total menjadi remaja ABG urban jaman sekarang. Rambut dikuncir, kaos ketat lengan super pendek, celana beberapa senti diatas lutut. Sungguh pemandangan yang bila para jomblo melihat Insya Allah tidak akan mengalihkan pandangannya hingga pemandangan itu hilang. Termasuk saya.

Anggap saja awalnya seperti ini.
(maaf bagi pemilik foto)
Saya memang mendengar percakapan beberapa menit sebelum pemandangan itu, mereka berencana menerobos hujan dengan membuka kerudung, takut basah mungkin. Tapi saya tidak menyangka bila mereka membuka tidak hanya kerudung, tapi semua setel seragam yang mereka kenakan.

Jadinya kira-kira seperti ini. (maaf buat yang punya foto)
Sungguh ironis, apakah kerudung dizaman sekarang hanya sekedar hiasan kepala saja? Ataukah sebenarnya dirumah mereka tidak berkerudung dan hanya terpaksa mengenakan kerudung karena kewajiban peraturan sekolah? Saya pun tak mengerti. Saya pikir wajarlah bila seorang gadis tidak mau memakai kerudung. Tapi posisi mereka sedang pulang sekolah. Apa tidak malu mereka bila berpapasan dengan temannya? Disekolah ditemukan berkerudung sedang dijalan ditemukan berpakaian minim?

Memang tidak semuanya yang membuka pakaian, ada salah seorang yang saya lihat paling kecil tapi saya yakin dia seumuran dengan lainnya masih mempertahankan seragam plus kerudungnya. Saya kira dia benar-benar mempertahankan penutup tubuhnya, tapi ternyata dia membawa mantel.

Yah, saya tidak bisa men-judge orang seperti apa hanya dengan sekali lihat. Hanya saja agak tidak begitu enak dilihatnya.

Sebagai laki-laki tentu saja saya senang melihat kesegaran dibalut air hujan seperti itu, tapi dilain pihak sebagai seorang manusia saya agak tidak bisa menerima. Akan tetapi sekali lagi saya tidak punya hak menghakimi orang. Biar Allah saja yang menangani mereka.

Mungkin akan banyak beberapa pembaca yang tidak setuju dengan saya. Semisal contoh:

"itu bukan urusanmu! Ngapain ikut2 urusan orang."
"suka-suka kami donk, emangnya siapa elo?"
"bisanya cuma komen doank. Dasar gak becus jadi manusia."

Saya hanya bisa mengingatkan dan mengajak berenung. Berusaha menyadarkan dan berpikir.

2 komentar:

  1. Sebagai sesama kaum perempuan,
    di satu sisi sedih, karena (lagi-lagi) perempuan jadi objek dengan nilai yang negatif. Tapi apa daya, si perempuannya sendiri yang menjadikan dirinya menjadi "objek" semacam itu.
    di sisi lain, geram. karena perilaku semacam itu memberi label/cap buruk pada perempuan, khususnya yang berjilbab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia. Entah apa yang ada di pikiran mereka yang seperti itu. Saya sebagai penulis hanya bisa beropini dengan apa yang terlihat dari sisi saya, tanpa tau apa yang ada dalam pikiran mereka...

      Hapus