Eternal Rain, begitu saya menyebutnya. Hujan abadi yang tak akan pernah berhenti sampai Tuhan sendiri yang harus menghentikannya. Memang lebay, tapi bila para pembaca merasakan sendiri hidup di kota Jember pasti akan merasakan dampak yang sama seperti saya. Makanya saya buat judul diatas selebay mungkin.
Menunggu Hujan reda seakan menunggu Kiamat tiba. Rasanya hujan tak akan pernah berhenti sampai kiamat diselenggarakan di alam semesta kita ini. Tiada hari tanpa hujan. Kadang sampai merusak kehidupan orang. Tapi apa daya, ini adalah kehendak Allah SWT.
Dalam kehidupan manusia pasti ada pro dan kontra. Dalam menyikapi hujan pun manusia sepertinya terbagi dalam dua kelompok besar. Yaitu, kelompok yang senang dengan datangnya hujan dan kelompok yang tidak senang dengan datangnya hujan. Saya termasuk yang mana? Saya kelompok abu-abu, karena saya menyukai warna abu-abu. Oh, gak nyambung ya. Berarti total ada tiga kelompok.
Kelompok yang senang dengan datangnya hujan biasanya di dominasi oleh anak-anak kecil. sering kali mereka terlihat hujan-hujanan di depan rumah milik orang tua saya (karena saya masih dinaungi orang tua, jadi saya sebut rumah orang tua saya). Bermain air dengan riang gembira seakan mereka diciptakan tanpa masalah dan beban hidup.
![]() |
| Senangnya kalau bisa seperti mereka lagi seperti dulu. |
Ada juga para manusia remaja dan dewasa yang pekerjaannya memang membutuhkan hujan agar laris. Sebut saja penjual mantel, ojek payung, atau penjual gorengan dan kopi dipinggir-pinggir jalan. Mereka malah bersyukur bila hujan tiba. Dalam hujan mereka mengais rejeki.
![]() |
| Jas hujan buat pengendara motor. |
![]() |
| Jasa Ojek Payung pun memiliki iklan. |
Untuk kelompok yang tidak suka akan datangnya hujan, yang paling merasakan sepertinya adalah Mahasiswa atau anak sekolahan. Karena saya merasakan sendiri bagaimana parnonya saat bangun telat padahal harus berangkat ke kampus karena ada ujian, dan saat itu juga hujan deras menghampiri. Rasanya benar-benar seperti kiamat di neraka. Super-super buruk.
Mungkin juga penjual es krim, es Cappucino Cincau, atau es-es lainnya. Biasanya orang akan enggan minum es saat hujan. Kan dingin.
![]() |
| Kayaknya enak nih. |
Terakhir kelompok yang saya buat sendiri. Abu-abu. Kenapa abu-abu? Karena tidak jelas mereka akan dikelompokkan ke yang mana. Kelompok abu-abu ini antara senang dan tidak. Kadang senang, kadang tidak. Seperti saya. Kadang senang dengan datangnya hujan karena bisa tidur sepuasnya dirumah, kadang tidak senang karena akhirnya saya tidak bisa keluar rumah untuk melakukan aktifitas diluar rumah.
Yah, intinya hujan adalah anugerah dari Sang Pemberi hidup. Jadi, tidak perlu dianggap bencana bagi yang tidak suka dengan kehadirannya. Walaupun tetap saja menunggu hujan reda di Jember hampir sama seperti menunggu Kiamat.
Sekian...
Sumber gambar: nyari di mbah Google.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar