Sudah tiga hari
berlalu sejak kejadian menegangkan itu terjadi. Namun suasana duka masih
menaungi kelas X.4 tempatnya menimba ilmu. Dia benar-benar seperti telah
kehilangan teman terbaiknya sepanjang hidup. Membayangkan bagaimana Edo --teman
baiknya-- tertabrak bus yang melintas tepat didepan matanya.
Saat itu, mereka
berdua sedang membeli buku untuk kebutuhan membuat makalah tentang alat
transportasi. Saat keluar dari toko Megah Jaya ketika tengah menyeberang, Redi
melihat mobil melintas cepat hampir menabraknya. Untungnya, Edo segera menarik
lengan Redi. Malangnya, disaat yang bersamaan, muncul bus Tebar Pesona dari
arah berlawanan berkecepatan tinggi.
Tanpa ada
aba-aba, bus tersebut menyantap tubuh gempal Edo. Edo terhempas, menghantam
trotoar jalan. Redi yang tidak siap dengan kejadian itu hanya bisa diam
mematung.
Beberapa detik
setelah proses kecelakaan itu terjadi, Redi berlari menghampiri Edo yang sudah
tek bernyawa. Memeluknya sambil terisak. Berlumuran darah temannya sendiri.
Orang-orang segera berkumpul disekitar Redi dan mayat Edo.
X*X
Dering telepon
membuyarkan pandangan Redi yang sedang serius mengawasi televisi. Diangkatnya
gagang telepon yang bentuknya sebesar gagang pintu itu.
"Halo! Bisa
bicara dengan Redi?" jawab suara diseberang,
"Ya, saya
sendiri. Siapa ya?”
“Ini Nova.”
“Oh, Nova. Ada
apa, nov?”
“Gini, Oki
pengen ngajakin kita keluar.” sahut Nova,
“Kemana?” Tanya
Redi lagi,
“Gak tau, tapi
kayaknya penting banget. Soalnya dia maksa tadi ngajaknya.”
“Hm, gimana ya.
Aku sekarang lagi sibuk nih. Lagi jaga rumah. Ortu lagi pergi keluar kota.”
“Ya udah, gimana
kalo gue sama Oki aja yang kerumah loe?”
“Boleh. Kapan?”
“Bentar lagi.
Loe tunggu aja dah.”
“Oke, aku
tunggu. Jangan lama-lama ya.”
“Beres, bro.”
Redi
merenung setelah meletakkan gagang
telepon. Ada apa gerangan yang begitu
penting? Dirinya membatin.
X*X
“Mungkin ini ada
hubungannya dengan gedung tua yang kita masuki seminggu lalu.” Kata Oki,
“Kita gak tau
apa ini ada hubungannya dengan kematian Edo, soalnya gak ada bukti kalo Edo mati
gara-gara hal itu. Bisa aja takdirnya memang seperti itu.” Nova menimpali,
“Loe masih gak
percaya! Buktinya udah jelas, kita selamat dari robohnya gedung tua yang entah
kenapa roboh dengan sendirinya, terus kita bakal mati satu persatu. Pernah liat
film Final Destination? Sepertinya
nasib kita akan berakhir seperti tokoh-tokoh dalam film itu.”
“Masa’ iya film
jadi kenyataan?” Redi bertanya polos,
“Gue juga gak
yakin, tapi yang jelas gue takut memang beneran jadi kenyataan.”
“Kalo memang
begitu adanya, kita harus cari pola kematiannya. Siapa berikutnya yang akan
mendapat rancangan kematian?”
Oki hanya
menggeleng sambil mengeluarkan sebungkus rokok mild dari saku bajunya. Meski
masih menimba ilmu dikelas satu, cowok yang hobinya main PS ini udah jadi pecandu
sejak masih kelas 5 SD. Mungkin turunan dari bokapnya yang juga perokok aktif.
Dia menyalakan
korek api digenggaman jarinya. Namun, korek api tak mau menyala. Berkali-kali
dicobanya tapi hasilnya nihil.
“Sial! Kok gak
mau idup sih! Padahal baru aja beli. Payah! Gini dah kalo barang murahan, gak
ada kualitasnya sama sekali. Loe punya korek gak?” tanyanya ke Redi,
“Gak punya.
Keluargaku gak ada yang ngerokok.”
“Haduh, dapurmu
dimana?”
“Disana, belokan
setelah kamar paling pojok.” Sambil menunjuk kesuatu arah,
“Oke.”
Oki berjalan ke
dapur tanpa ada feeling bakal terjadi sesuatu. Sebelumnya dia masuk ke kamar
mandi dulu karena tempatnya memang berdekatan. Begitu keluar dari kamar mandi,
Oki bergegas menuju dimana kompor gas berada. Dia bermaksud menyalakan rokoknya
dengan kompor gas. Sambil mulutnya menjepit rokok, dia mendekatkan mukanya ke
kompor.
Tiba-tiba, hal
yang sangat tak diinginkan terjadi. Saat memutar kenop kompor, bukan api kecil
yang muncul, melainkan semburan api+gas yang mengganas. Apinya langsung saja
menghambur ke muka Oki. Tanpa dinyana dia langsung berteriak sambil memegangi
mukanya yang terbakar. Face of Fire.
Redi dan Nova
yang mendengar teriakan Oki segera saja berlari kearah sumber suara. Tampak
pemandangan mengerikan layaknya pemain sirkus yang membakar wajahnya sendiri,
tapi yang ini tanpa disengaja dan memang tidak diharapkan.
Redi dengan
sigap berlari ke arah kamar mandi, tapi pintu kamar mandi tak mau bergeming
sedikitpun. Redi memutar kunci yang
tertancap di kenop pintu. Tak ada reaksi. Memutarnya lagi. Kunci malah patah.
Kebingungan. Redi melihat handuk disebelahnya. Menyambarnya kemudian berlari ke
arah Oki.
Sesampainya
ditempat Oki, dia sudah terlihat jatuh dilantai marmer dan tak bergerak lagi.
Nova menjerit-jerit sambil menutup mata. Redi langsung mengibas-kibaskan handuk
ke kepala dan baju Oki yang membara. Akan tetapi handuk malah ikut terbakar.
Redi melemparkan handuk ke sudut dapur.
Kehabisan akal
dan waktu, Redi berlari ke ruang tamu. Disana dia melihat vas bunga berukuran sedang
berisi air dan seikat bunga. Dibawanya dengan tergesa-gesa. Api sudah mulai
menelan habis tubuh Oki. Tanpa berpikir sekian kali, Redi langsung menyiramkan
air dari vas bunga yang dibawanya. Air segera membasahi tubuh Oki yang
menghitam dan seluruh lantai di sekitarnya. Bunga-bunga berceceran.
Api padam. Wajah
Oki yang gosong tampak sangat mengerikan. Nova tak sanggup melihat dan berkata
apa- apa lagi. Miris dibuatnya. Redi memelorotkan tubuhnya ke dinding dapur.
Diam membisu. Napasnya menderu hebat.
X*X
Prosesi
pemakaman berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Redi mendekati Nova.
“Gimana ini?
Sahabat kita meninggal satu persatu. Apa mungkin benar kata Oki, kita sedang
dikejar oleh Kematian?” Tanya Redi lemah,
“ Gak tau, gue
juga gak bisa menyimpulkan. Gue gak bisa mikir sekarang, gue trauma.”
“Terus apa yang
harus kita lakukan?”
“Entahlah, gue
juga gak tau.” Ucapnya sambil lalu.
Redi masih belum
beranjak dari tempatnya berdiri semula. Dia menoleh ke arah gundukan tanah
merah yang dibawahnya tersemayam jasad Oki. Memori masa lalu terlintas di
otaknya, bagai roll film yang diputar cepat. Masa-masa yang mereka lalui
bersama. Berbagi suka dan duka.
Esoknya di
sekolah, Redi hanya merenung. Memikirkan langkah apa yang harus dilakukan untuk
menghentikan maut yang mengejarnya.
Pulang sekolah,
Nova dibonceng Redi kerumahnya. Biasanya Nova dijemput oleh sopir pribadi,
tetapi tidak kali ini. Sampai dirumah Nova, mereka membahas lagi perihal
teman-temannya.
“Kalo emang
menurut loe kita dikejar oleh maut, loe punya usul buat menghentikan semua
ini?”
“Aku memang gak
punya usul yang baik, tapi gimana kalo kita ke bekas reruntuhan gedung tua itu
lagi?” usul Redi,
“Ke gedung itu
lagi, untuk apa?”
“Untuk mencari
sesuatu yang kira-kira bisa menghentikan semua ini.”
“Sesuatu apa
itu?” desak Nova,
“Aku juga gak
tau. Makanya kita cari sama-sama.”
“Huh, terserah.
Terus, kapan kita kesana?”
“Kalo bisa hari
ini juga.”
“Hah, hari ini?
Ya gak bisa lah. Bentar lagi gue ada undangan ke acara pesta di kantor papa
gue. Mungkin acaranya sampe malem. Jadi gue gak bisa ikut loe.”
“Kalo besok
gimana?”
“Besok gue ada
les biola. Gimana kalo–“ suara dering BB milik Nova memutuskan percakapan. Nova
mengangkat BB-nya. Setelah selesai bercakap ria, dia meletakkan kembali ke saku
seragamnya.
“Barusan papa
gue nelpon, katanya gue disuruh cepet ganti baju. Soalnya bentar lagi sopir gue
datang mau jemput.”
“Oh, ya udah.
Kalo gitu aku pamit pulang dulu ya, besok kita rencanakan lagi.”
“Oke deh,
hati-hati dijalan.”
Redi berdiri
dari sofa tempatnya duduk. Dibarengi oleh Nova. Namun, tanpa sengaja Nova
menyenggol guci mini disebelah ia duduk.
Guci jatuh dari meja dan hancur berkeping-keping. Nova memanggil pembantunya
yang sedang memasak makan siang didapur. Dia meminta maaf kepada Redi atas apa
yang baru saja terjadi. Redi memakluminya.
Dirumahnya
sendiri, Redi segera merebahkan tubuh letihnya diatas ranjang setelah melempar
tasnya keatas meja belajar. Menatap kosong ke langit-langit kamar. Agak lama.
Kemudian Redi beranjak dari pembaringannya. Berjalan ke arah pintu.
Tiba-tiba
matanya tertuju pada sebuah bingkai foto. Diambilnya foto yang tertidur di meja
belajarnya. Dilihatnya baik-baik foto itu. Foto saat mereka berempat sedang
liburan ke gunung Tangkuban Perahu.
Tapi bukan
karena foto itu tergeletak tertimpa tasnya atau dia ingin bernostalgia
mengingat memori lama yang membuat dia sekarang membelalakkan matanya.
Pemandangan yang ada di foto tersebut yang kini membuat tubuhnya menggigil
gemetaran. Matanya nanar menatap foto digenggamannya.
Dari kiri
dimulai dari tempat Edo bepose. Fotonya terdapat semacam bercak semerah darah.
Tepat ditubuh Edo. Ke kanan, ada Oki berdiri sambil memegang rokoknya. Mukanya tampak
gosong menghitam. Disebelah Oki, terlihat Nova sedang berjongkok diatas sebuah
batu. Fotonya terlihat mengkerut. Lebih tepatnya bertumpuk-tumpuk. Redi
memandang posisinya sendiri di foto itu. Berpose melompat. Tertutupi semacam
efek flash sehingga tubuhnya terlihat
begitu terang.
Kejutan
berikutnya, background foto yang seharusnya menampilkan keindahan alam gunung
Tangkuban Perahu lengkap dengan kawah berasapnya, berubah menjadi gelap hampir
pekat. Tertutup awan mendung. Redi bergidik melihatnya, sampai-sampai foto yang
dipegangnya jatuh dan pecah berantakan.
Berdiri terpaku,
saat kesadarannya kembali. Redi segera menyambar HP yang ada di dalam tasnya.
Mencoba menghubungi BB-nya Nova. Namun, seperti yang sudah ia duga sebelumnya.
BB yang dihubungi tidak menyahut, hanya bunyi “tuuut…tuuut…tuuut” yang
terdengar. Redi semakin bingung tak tau harus berbuat apa.
X*X
Redi sudah
menduga akan terjadinya hal ini. Barusan bokap Nova menelpon balik. Mengabari
bahwa anaknya terjatuh dari lantai 21 gedung kantor bokap Nova. Tubuhnya jatuh
menimpa mobil dinas yang terparkir rapi dibawahnya. Sampai saat ini tak
diketahui penyebab kenapa Nova bisa jatuh. Hanya di-TKP terlihat gerobak dorong
yang biasa dipakai oleh pengantar surat terguling.
Benar-benar
alasan yang sangat tidak masuk akal. Kini tinggal dirinya sendirian dari
keempat sahabatnya yang masih bertahan hidup. Malam ini, dia duduk sendiri di
beranda rumahnya. Rumah yang tidak begitu mewah, tapi cukup besar untuk
ditempatinya sekeluarga. Merenung memandangi bintang dilangit.
Apa yang harus kulakukan untuk menghentikan
semua ini? Tanyanya dalam hati. Akhirnya, dia mengambil suatu keputusan nekat.
Sepulang
sekolah, tanpa mengubah kostum putih abu-abunya, dia segera ngebut ke bekas
gedung tua yang roboh waktu itu. Meraung-raung dengan suara motornya. Setelah
sampai, dia berjalan berkeliling tempat yang dituju. Masih ada beberapa bagian
tembok yang berdiri tegak. Namun, hal itu tak membantu. Tak mengubah apa-apa.
Redi putus asa menerima kenyataan yang ada.
Dia tidak
langsung pulang setelah dari gedung tua. Redi bergerak ke sudut kota. Tempat
dimana para gelandangan dan pengemis berada. Entah apa yang ada di otaknya
sekarang. Memparkir sepeda motornya disebelah lereng sungai yang cukup dalam.
Berkubang dalam keputus-asaan, Redi merasa dirinya menjadi gila. Tak ada hal
berarti yang dilakukan disana, hanya melongo tanpa harap. Sampai malam pun
hadir.
Saat itu, Redi
akan beranjak pulang. Mendekati motornya. Secara tiba-tiba, dari arah jalan
muncul truk pembawa besi tua yang merangsek masuk melewati perkampungan dan
mengarah lurus tepat ke arah Redi berdiri. Dia ingat dengan foto dirumahnya.
Tubuhnya tertutup cahaya sama seperti saat ini tubuhnya terkena pancaran sinar
lampu truk. Tanpa pikir panjang Redi melompat ke samping. Malangnya, dia
melompat ke sungai. Tubuh Redi berguling-guling menyusuri lereng sungai. Truk
menabrak motor hingga hancur tak berbentuk. Entah apa yang terjadi selanjutnya,
semua terjadi begitu cepat.
X*X
Selang infus
menancap dengan pasti dipergelangan Redi. Tubuhnya tergolek tak berdaya
diranjang rumah sakit yang berselimut sprei putih. Sudah 3 hari ini dia tak
sadarkan diri. Ibunya menemaninya dengan setia disampingnya.
Hari beranjak
sore, Redi membuka kelopak matanya setelah sekian lama terpejam. Ibunya yang melihat
hal tersebut langsung memeluk tubuhnya. Redi masih tidak terlalu tanggap akan
apa yang sedang terjadi.
“Dimana ini,
bu?”
“Dirumah sakit,
nak. Kamu kecelakaan beberapa hari yang lalu. Hampir saja ditabrak oleh truk
yang remnya blong. Syukurlah kamu selamat, nak.” Tutur Ibunya sambil meneteskan
air mata.
Redi terdiam
menatap pintu kamar. Mencoba mengingat kembali kejadian terakhir yang
menimpanya. Dia masih sangat ingat ketika terakhir melompat menghindari
tabrakan truk. Redi menyangka bahwa ia sudah terlepas dari maut karena berhasil
lolos dari kematian yang hampir menimpanya.
Lusa, Redi sudah
boleh pulang kembali kerumahnya. Dia hanya mengalami retak di tangan kirinya,
tepat di tulang pengumpil. Namun, masih ada harapan untuk sembuh. Redi sudah
tidak sabar untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya kembali.
Sampai dirumah,
Redi mencoba menggerakkan pergelangan tangannya. Besok dia ingin masuk sekolah.
“Eh, bro.
katanya loe udah keluar dari rumah sakit ya?” Tanya Iwan yang juga warga kelas
X.4,
“Yoi, mungkin
besok aku mau masuk sekolah aja. Udah lama gak masuk, kangen sama temen-temen.”
“Oh, baguslah
kalo gitu. Katanya motor loe rusak ya?”
“Bukan Cuma
rusak, tapi hancur berantakan.”
“Gini aja deh,
gimana kalo besok loe gue jemput?”
“Hm, oke dah. Bisa-bisa.”
“Besok jam
setengah tujuh gue kerumah loe.”
“Sip lah. Sampai
ketemu besok, bro.”
Redi mematika
HP-nya dan meletakkan diatas meja belajar. Sambil menerawang, ia mengingat lagi
kejadian saat teman-temannya tiada. Dia merasa beruntung karena terlepas dari
kematian yang mengintainya sepanjang waktu. Meski harus mengalami retak tulang,
namun dia masih tetap hidup.
X*X
Vespa butut itu
menerobos derasnya hujan yang mengguyur jalanan. Menembus pekatnya awan mendung
siang itu. Petir menjilat-jilati cakrawala.
Iwan
mengemudikan motornya dengan kecepatan cukup tinggi, berusaha mengimbangi
derasnya hujan. Redi berpegangan erat dibelakangnya sambil menggigil
kedinginan.
“Oi, hujannya
deres banget nih. Gimana kalo kita berteduh dulu?” tawar Redi,
“Udah tanggung,
bentar lagi juga nyampe rumah.” Iwan menolaknya,
“Kalo gitu
cepetan. Aku udah kedinginan ini.”
“Iya, ini udah
kecepatan maksimal.”
Kegelapan awan
membuat pandangan mata menjadi terbatas. Saat melewati sebuah lapangan. Tiba-tiba
muncul mobil dari bahu jalan. Iwan yang kelabakan segera membanting setir ke
kanan. Jalanan yang licin membuat vespa menerobos semak-semak dan menabrak
pagar lapangan.
Iwan terjerembab
ke dalam semak-semak. Redi sendiri terlempar ke tengah lapangan. Tubuhnya
terseret sejauh kira-kira 16 meter diatas rumput basah. Untungnya rumput
terawat di lapangan itu, jadi Redi tidak bergesekan langsung dengan tanah.
Akibat kejadian itu, tangan kiri Redi kembali retak. Dia berteriak dalam
derasnya hujan. Kakinya juga merasakan sakit. Berusaha untuk berdiri. Tubuhnya
gemetaran. Mencoba berjalan menuju jalanan sambil menggenggam tangan kirinya.
Kejadian
berikutnya tak diduga dan sangat tidak diharapkan oleh Redi. Tepat berjalan
ditengah lapangan. Posisi tubuhnya lebih tinggi daripada benda mati disekitarnya.
Sakit.
Darah.
Basah.
Dingin.
Capek.
Dalam kelelahan
yang melanda, Redi menatap ke langit. Pemandangan aneh tercipta. Seperti
melihat malaikat maut turun dari langit. Melesat cepat. Lurus ke arah sosok
Redi yang berdiri. Sebilah petir menyambar tepat diatas kepala Redi. Tak ayal,
tubuhnya tersengat aliran listrik jutaan volt dengan panas ribuan derajat
celcius.
Cahaya terang
sempat menyinari badan Redi yang kaku tegak berdiri. Kemudian, selanjutnya
gelap![]
wow,..wow,..wow,..horroooooorrrr banget nih crita,..mirip final destination hlo,..hebat ee bisa nulis cerpen,..ak gag bisa hlo,..
BalasHapusHaha, sekedar mempublikasikan apa yang sudah tertuang di buku cerpen usang...
Hapus