Senin, 17 Februari 2014

Pray For Kelud

Beberapa detik berlalu, namun tubuhku masih tak dapat digerakkan. Punggung tanganku panas sekali, memerah serasa terbakar. Kaki kiriku ngilu, entah retak, entah patah. Tembok yang roboh menindih tubuhku dengan ganas. Tanpa memberi celah untuk sekedar bergeser seinci saja. Pandanganku mulai mengabur. Semakin lama semakin gelap. Aku harus berusaha untuk tetap sadar jika ingin hidup, namun semangat hidupku semakin pudar seiring dengan asap yang kian menebal.